Thursday, May 17, 2007

Patience

“orang sabar disayang Allah,” begitu kata orang. Kalau saya memngutip dari sebuah buku karangan DR. Yusuf Qardhawi yang judulnya ‘Shabar, salah satu prinsip gerakan Islam’, sabar itu adalah setengah dari dien (agama). Kata sabar juga sering menjadi kunci dalam mengatasi masalah-masalah psikologis (caela… yang ceritanya ngerti psiko nih!)

Tapi disini saya cuma mau membahas sabar dikaitkan dengan pekerjaan saya. Beberapa hari belakangan ini, saya belajar hal baru tentang arti kesabaran dalam konteks pekerjaan. Hal baru?... mmm… gak juga sih. Sebenarnya sama sekali nggak baru. Mungkin jadi baru karena hal itu kelamaan mengendap di area subconscious saya, dan baru-baru ini hal itu di activate oleh beberapa hal yang saya hadapi pada saat berinteraksi dengan mereka yang belajar melalui bantuan saya. Heemmmm… kayanya saya semakin sadar nih kalau banyak banget teori-teori yang masih mengendap di area subconscious saya yang pastinya perlu diaktivasi.

Ya sudah, jadi apa dong intinya?... he-he-he… sabaaaar. Bahkan untuk mengetahui sesuatu pun kita harus sabar, apalagi memahaminya? Menghadapi orang yang belajar dengan kita pun harus sabar.
Aduh, kalo soal sabar menghadapi mereka yang belajar dengan bantuan kita sih saya sudah tau dari dulu atuh! Nah, maka dari itu saya nggak bilang ini hal baru… bukan?
Beberapa waktu belakangan ini, entah karena banyak hal yang harus saya tangani, entah karena beberapa hal yang harus saya tangani merupakan hal baru, entah karena capek, atau karena kondisi fisik sedang kurang baik (pokoknya kalo mau cari excuse sih pasti ada aja deh) saya menjadi kurang sabar menghadapi mereka-mereka itu. Bukan kurang sabar menghadapi perilaku mereka. Kalau yang satu ini, setiap kali menjelang menghadapi mereka, saya sudah siapkan mental. Tapi kurang sabar dalam menyikapi perkembangan pembelajaran mereka. Aduh-aduh… gimana siiihh? Bukannya saya yang katanya ngerti psikologi pendidikan tuuuh?... ups..
Kejadian di kelas A misalnya. Sudah berapa sesi saya ulang-ulang expressions yang harus mereka gunakan saat melakukan percakapan. Sudah macam-macam aktivitas yang saya buat (yang juga mereka suka) untuk melatih penggunaan expressions itu, tetap saja mereka melakukan kesalahan-kesalahan yang (menurut saya) tidak perlu. Gemas! Itu kata yang saya rasa tepat untuk mewakili perasaan saya waktu itu. Harus gimana lagi dong? Kita (maksudnya saya dan mereka) harus melanjutkan materi, nggak bisa ‘ngutek’ disini terus.
Kejadian di kelas B dan C lain lagi. Kelas B dan C adalah dua kelas dengan level sama tetapi dengan karakteristik ‘penghuni’ yang berbeda, meskipun notabene usia mereka semua sebaya. Deskripsi untuk kelas B adalah nice, cooperative, and quite smart. Deskripsi untuk kelas C itu noisy, talkative, but still controllable. Kali ini bukan soal penggunaan expressions, melainkan soal tata bahasa yang memang lumayan kompleks. Waktu hal ini terjadi di kelas C, saya masih berusaha (keras) untuk memaklumi. Tapi ketika hal ini juga terjadi di kelas B (walaupun nggak terjadi pada semua ‘penghuni’), rasanya saya harus berkata-kata nih!
“I know this is quite complicated, but remember… I told you that this is one of the consequences of being in high level. You cannot just go home and drop your books in your bag, drawer, bookcase, bookshelf.. whatsoever…. And pick them up right when you want to come here.”
Huuuu… galaknya keluar tuuuhhh…

A-ha moment itu saya peroleh kemarin ketika menghadapi mereka-mereka yang berminat memiliki profesi seperti saya. Tepat ketika membahas konsep constuctivism. Aduh! Urusan gue banget tuh!... he-he-he… Saat saya berusaha menyampaikan konsep yang teori banget itu ke dalam bahasa dan konteks yang lebih mudah dicerna… a-ha! Here, my subconscious is activated. Bahasa kalbunya begini…
Eh, ingat loh, individu itu sendiri yang mengkonstruk alias membangun pembelajarannya, bukan kamu. Fungsi kamu itu adalah mengaktivasi apa yang sudah mengendap di benak mereka dan menambahkan (sedikit aja, gak bisa banyak-banyak) pada apa yang mereka sudah punya. Berbeda individu, berbeda juga kemampuan aktivasinya. Ada yang mudah diaktivasi, ada yang sedang, ada juga yang masih Pentium II (sekarang udah era core duo kan?) Ada yang mampu menampung banyak tambahan, ada juga yang cuma sedikit aja. Bersyukur kamu bisa mengaktivasi diri kamu sendiri, nggak melalui orang lain. Mungkin saat ini perkembangan konstruksi mereka baru sampai di situ... ya udah, berarti kamu harus sabar!... Naaaahhh… sampai juga kan ke kata itu.

Kesimpulannya (susah emang kalo biasa ngurusin essay writing), Being patient in dealing with their cognitive progress is the thing which was just activated from my subconscious. We are often so focused on tangible things (I mean behavior) that we don’t pay attention to the less tangible ones.

0 comments: