Saturday, January 31, 2009

Psikolog Juga Manusia

"Koq begitu ya... dia kan psikolog. Koq sikapnya begitu. Bukannya semestinya dia yg harus lebih mengerti orang lain" Kalimat itu belum lama saya dengar dari mulut seseorang. Sebenarnya ini bukan kali pertama saya mendengar kalimat seperti itu. Sebelum-sebelumnya saya sudah beberapa kali mendengar perkataan senada (saya nggak berani bilang sering... karena nggak yakin juga). Biasanya perkataan seperti itu saya dengar jika orang mendapati seorang psikolog atau sarjana psikologi bersikap atau berperilaku yang mengecewakan atau diluar harapan lingkungan sosialnya. Kalo mau pakai bahasa singkat 'aneh'...

Yang lucu, ketika menemui 'keanehan' pada pribadi si psikolog atau sarjana psikologi ini kadang lingkungan sosialnya membuat asumsi-asumsi dengan melihat konteks dan latar belakang kehidupan pribadi yang bersangkutan dengan maksud untuk bisa tetap berpikir positif. Kalo pake istilah bahasa Arab tuh 'husnuzhon'. Hmmmm.... Yang kaya gini kan justru yang biasa dilakukan psikolog waktu menganalisis kasus bukan? (kalo gak salah ya...) Jadi sebenernya yang belajar psikologi itu siapa ya?... hahahaaaa.... ribet euy...

Saya bukan psikolog, meeskipun saya belajar psikologi secara formal. Ternyata masih banyak sekali orang yang berpikir bahwa semua yang kuliah di psikologi itu psikolog. Lewat blog ini saya mau sampaikan kalo gak semua yang kuliah di fakultas psikologi itu lulusnya bakal jadi psikolog. Tapi saya gak mau bahas soal fakultas psikologi disini...

Kembali ke topik awal, soal harapan lingkungan sosial terhadap para psikolog atau sejenisnya. Pengalaman saya selama berinteraksi dengan para psikolog 'yang sebenarnya' (bukan 'yang dikira' psikolog seperti saya) memang ada hal-hal yang 'berbeda' (kalo gak bisa dibilang 'aneh') dibandingkan berinteraksi dengan lingkungan sosial di'luar dunia para psikolog.

Bingung gak?... bingung?... gak apa... Bingung adalah awal pembelajaran... bahkan kreativitas...heheeee... itu bukan kata saya...kata Prof saya yang pakar kreativitas... heheee

Gini deh... misalnya... Di dunia psikologi kata 'differences' dan 'understanding differences' merupakan kata-kata yang umum dan populer dalam teori-teori psikologi. Trus kata 'konteks' .. misalnya 'perilaku yang sesuai dengan konteks'... atau yang gitu-gitu deh.... sering banget tuh... Implikasinya gini... jadi, semakin anda mempelajari psikologi layaknya anda semakin memahami perbedaan. Atau semakin anda memahami ilmu psikologi, logikanya anda akan mampu berperilaku sesuai dengan konteks... gitu...
Tapi herannya... saya justru sering menemukan yang sebaliknya ketika berinteraksi dengan mereka-mereka yang (logikanya) paham psikologi ini. kadang mereka menuntut konformitas... keseragaman. Kadang mereka bersikap diluar konteks. Sekenanya mood mereka aja lah. Yang lebih enak sih buat mereka yang punya otoritas. Jadi gak ada yang bisa protes kan?
Ya contohnya gitu...
Tapi tentu saja saya juga gak bisa menjadikan pengalaman2 pribadi saya itu sbg patokan bahwa demikianlah dunia psikologi. Saya juga menemukan orang-orang yang kemudian (dan samapai sekarang) sangat saya hormati disamping keahlian dibidangnya.

kembali ke laptop... Saya mencoba merefleksi diri... kejadian2 itu merupakan anomali, efek resiko tugas psikolog yang kerjanya menrima curhatan orang, atau standarisasi ganda lingkungan sosial? harapan lingkungan sosial terhadap mereka2 yang psikolog berbeda dengan harapan terhadap orang kebanyakan. Bisa jadi ya... bisa jadi tidak... Tapi kalo mau pake prinsip 'husnuzhon' jawabannya 'iya'
Saya coba analogikan ini dengan profesi dokter. Apakah dokter gak bisa sakit? jawaban untuk ngeles yang paling enak gini... "Ya dia kan dokter kandungan, jadi kalo dia sakit jantung ya wajar lah..." hahahaaaaa... Bisa gak itu diaplikasikan ke psikolog?
"Ya dia kan psikolog yang spesialis anak-anak autis, wajarlah kalo sama orang normal dia aneh" ... kayanya nggak ya? hahaaaa...
permakluman terhadap psikolog belum semaklum lingkungan terhadap dokter...
Yaaaa mana ada orang gak pernah sakit? hahaaaa... untuk hal satu ini dokter kayanya lebih beruntung dari psikolog ya?

Untuk saya... yang belum lama ini mendapatkan pengalaman soal 'keanehan' sikap seorang psikolog, saya mencoba berdamai dengan diri dan keadaan dengan berkali-kali mengatakan kepada diri saya...
Psikolog juga manusia
...
(and I am an angel... hahahaaaa... no kidding!)

3 comments:

Mariskova said...

Tetangga sebelah gw di kantor juga lulusan psikologi tuh huahahaha...

windearly said...

apakah dia uga 'berbeda'? heheheeeee

Daffodil said...

hihihi... kayaknya jawaban Mariskova sangat mudah ditebak....