The series... Iya, karena itu terpikir (dan terkatakan) bukan cuma sekali. Ini bukan yg pertama. The thing is, yg sebelum2nya gak ditulis di sini. Hanya terpikir dan terucap.
Tapi kenyataannya, meskipun sudah beberapa kali terjadi, kenyataan mengatakan kalo ternyata belum sampai ujungnya. Belum ditutup bukunya, begitu biasanya istilah gue. Tapi stiap kali berteriak "I've had it up to here", rasanya memang seperti sudah di ujungnya. Kalo gue mau evaluasi, degree of pain nya sama, setiap kali terpikir itu. Dan setiap kali itu terucap, aku berharap bahwa itu memang ujungnya. Dengan pemikiran bahwa setelah itu aku akan bebas.
Kali ini aku gak mengatakannya... Cukuo pada diri sendiri...dengan tambahan di ujung kalimat: REALLY?
Kadang2 aku (entah nyadar or setengahnyadar) suka mengait-ngaitkan situasi2 tertentu sbg 'tanda-tanda'.
"It's a sign!" *dengan gaya si Je*
Sekarangpun aku mengaitkannya dengan situasi2 yang terjadi belakangan. Buruknya, aku kadang terpikir kalo ini adalah hukuman Allah buat kesalahanku entah yg mana (yg jelas banyak).
Suuzhon...itu istilahnya. Gak boleh...itu aturan mainnya. Tapi kadang memang ada situasi2 yg bikin kita sulit banget untuk berbaik sangka... Termasuk berbaik sangka sama Allah. Meskipun kita mau. Meskipun logika mengatakan begitu. Efeknya kalo udah begini? Yang namanya si HOPE alamat rontok pelan-pelan. Kaya rambut gue yg meskipun dah pake shampoo Pantene anti rontok, teteeeeeeppp.
Dengan terjemahan bahasa Indonesia: Cukup sampai disini! Dan dengan rasa kecewa yg luar biasa (what's new?), aku mengatakannya (lagi) sekarang. Meskipun hanya pada diri sendiri, dan blum tau apakah memang sudah sampai ujungnya...
Sent from my BlackBerry® smartphone
Early sunshine at Sunflower hill
Saturday, September 18, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Blog Design by Gisele Jaquenod
0 comments:
Post a Comment