Seperti disilet-silet...ditetesin jeruk nipis...silakan bayangin. Kalo mo nyoba juga terserah. Tapi honestly aku juga blom pernah sih kena luka silet trus ditetesin jeruk nipis kaya apa perihnya...
(koq jadi bahas silet?)
Eh tapi bener...perih...periiiiihhhh banget. Pengen teriak aja rasanya. Sakiiiiittttt....sakit tauuuukkk... Kaya judul lagu band ABG 'Vierra' itu (meskipun aku ga tau sih itu lagu cerita tentang apa). Saking perihnya, sampe ga bisa mikir. Blank.
Jauh...jauuuuh di sudut hati paling dalam sepertinya aku mendengar suara "Gue bilang juga apeeee...." Bahasa Inggrisnya, "I told youuuu..."
Koq waktu itu aku berani ya? Apa mungkin waaktu itu aku ga pernah nyangka perihnya sampe perih banget kali ya? Ah nggak juga sih... Tau lah...
Yang pasti sumpah deh perih banget...tapi aku gak menyesal...gak mau...gak mungkin. Sebagai orang dewasa (halah gaya...) aku harus bersedia menerima apapun kelanjutan dari proses yang sudah terjadi. Seiring waktu berjalan, dan dia sampai di titik persimpangan, pilihannya kan cuma dua memang...enak-nggak enak, perih-nggak perih, menyenangkan-gak menyenangkan, dst.
Jadi inget kata-kata temen..."Be thankful when you feel the hurt, it means you are alive"hmmm...ya, Alhamdulillah aku masih 'hidup' Jadi inget juga kata-kata Kahlil Gibran (alamaaaakkk) di bukunya 'Sang Nabi'
hmmmm....lupa sih tepatnya kata-katanya gimana tapi pokoknya maksudnya gini...semakin dalam seseorang merasakan perih, itu menunjukkan sedalam itu juga seseorang bisa merasakan bahagia. Seperti cawan, semakin dalam lekukannya, semakin banyak air yang bisa dia tampung.
Hiyyyaaaaaa....bikin kata-kata kiasan sih gampaaaang...ngalaminnya tuuuhhh...
satu hal yang membuat aku agak merasa berkurang perihnya (berarti tetep perih tuh), karena aku gak menyesal. Mencoba menerima apapun yang terjadi, membuat aku nggak kehilangan kendali. Meskipun kadang ingin juga bertanya kepada Allah. Kenapa sekarang? Apakah akan sama jadinya kalau ini terjadi bertahun-tahun yang lalu?
Aku punya keyakinan Allah tidak pernah zhalim kepada hambaNya. Dua tanganku kugenggam erat...keras malah. Seperti mencoba menggenggam erat keyakinan itu. Allah pasti punya rencana, yang aku blum tau apa.
Aku berdoa....Berdoa apa saja dari apa yang aku rasa. Karena memang cuma itu yang aku bisa. Kalau dalam situasi kaya gini, terasa banget kalau hidup ini ada dalam genggamanNya.
Kalau ditanya apa yang aku mau...aku tahu. dan jujur, doa itu juga yang aku panjatkan. Meskipun kadang2 sampe gak berani berdoa...entah kenapa. Tapi bagaimana realisasinya...pasti Allah yang lebih tahu... Aku? pasrah...sambil terus berusaha menggenggam keyakinan: 'Allah tidak pernah zhalim pada hambaNya'
Early sunshine at Sunflower hill
Saturday, November 7, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Blog Design by Gisele Jaquenod
4 comments:
setuju Wind.
sama Allah kita harus dan wajib berbaik sangka. tak ada lagi tempat meminta selain padanya.kala susah, jangan bertanya padaNya mengapa dan mengapa karena mungkin kita tak akan pernah menemukan jawabnya.
resapi perihnya,insya Allah ketika bahagia datang, kita akan mensyukurinya. bila kita lulus 'ujian'Nya dan pada akhirnya kita bersyukur, bukankah Tuhan akan melipatgandakan smua nikmatNya pada kita? :-)
tetap tabah, berusaha dan berdoa.....
thank you jeng, for the support :)
mau pinjem golok?
samurai deh kalo ada Pin...kakakaaaakkk
Post a Comment